'Guar Bumi' Adat Tradisi yang Masih dijunjung Masyarakat Desa Pilangsari Jatitujuh

4 November 2020, 20:00 WIB
Kades Pilangsari bersama Muspika Jatitujuh melakukan prosesi 'Guar Bumi' sebagai simbol dimulainya musim tanam, Rabu 4 November 2020 /Pikiran Rakyat/Portal Majalengka/Andra Adyatama

PORTAL MAJALENGKA - Guar Bumi, hajat bumi, atau di beberapa daerah disebut dengan sedekah bumi merupakan tradisi turun temurun masyarakat Desa Pilangsari kecamatan Jatitujuh kabupaten Majalengka Jawa Barat yang selalu dilaksanakan ketika memasuki awal musim tanam.

Untuk tahun ini sendiri kegiatan tersebut dilaksanakan pada Rabu 4 November 2020, bertempat di areal persawahan desa setempat. Para tokoh Adat dan seluruh masyarakat berkumpul di tempat kegiatan.

Namun ritual itu sendiri yang diwakili oleh 7 Orang dari berbagai unsur tokoh dan muspika melakukan ritual bersama diawali pembukaan oleh Kepala Desa Pilangsari H Didi Tarmadi dengan mengulas sejarah dan tradisi-tradisi yang ada.

Baca Juga: Komunitas Muslim Majalengka Boikot Produk dan Pemikiran Dari Prancis

Selanjutnya membakar dupa dan menaruhnya di tempat yang telah disediakan. Ke Tujuh orang tersebut bergantian mencangkul tanah yang sudah disiram dengan air kembang.

Kata Didi, hal ini dulunya selalu dilakukan oleh para leluhur atau nenek moyang mereka, kemudian Doa bersama meminta kepada Allah SWT agar selalu diberikan kebaikan khususnya saat melakukan penanaman dan saat panen nanti diberikan hasil yang melimpah, juga mendoakan arwah para leluhur (“karuhun” menurut masyarakat di sini) agar senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT. 

Tidak lupa juga berdo’a untuk kebaikan seluruh masyarakat baik yang ada ataupun yang sedang merantau atau usaha diluar kota, dilanjutkan dengan guar bumi yaitu mencangkul tanah sebanyak tiga kali cangkulan.

Baca Juga: Indonesia Diambang Defisit, Sri Mulyani Mengaku Terpaksa Hutang ke Negara Lain

"Proesi mencangkul yang dilakukan oleh tujuh orang tadi merupakan simbol, setelah sebelumnya tanah tidak dipakai selama beberapa bulan, dan sekarang diguar kembali untuk bercocok tanam. Semoga dengan simbol dan ritual ini bisa menjadi keberkahan bagi masyarakat Pilangsari," ujarnya.

Sementara itu Camat Jatitujuh, Ikin Asikin menilai, ritual tahunan semacam sedekah bumi bukan hanya merupakan sebagai rutinitas atau ritual yang sifatnya tahunan belaka. Akan tetapi tradisi sedekah bumi mempunyai makna yang lebih dari itu.

“Ini sebagai bentuk rasa syukur dan menjadi salah satu bagian dari masyarakat yang tidak akan mampu dipisahkan dari adat istiadat dan kebudayaan,” tuturnya.

Baca Juga: Sambut Kabar Kepulangan Habib Rizieq, Yusuf Mansur Mengaku kagum

Bukan hanya itu, ritual adat seperti guar bumi atau sedekah bumi bisa menjadi aset wisata yang layak dijual ke wisatawan terutama asing.

“Dampak dari BIJB, ritual adat seperti ini sangat menarik bagi wisatawan asing, tinggal bagaimana mempromosikannya kepada mereka. Majalengka punya banyak aset wisata yang potensial tinggal kemauan kita untuk mengelolannya,” katanya.

Ditambahkan dia, ritual sedekah bumi yang sudah menjadi rutinitas masyarakat ini merupakan salah satu jalan dan sebagai simbol penghormatan manusia terhadap tanah yang menjadi sumber kehidupan.

Baca Juga: Anggota TNI Dipecat Karena Kasus Asusila

Bahkan, menurut cerita dari nenek moyang terdahulu, tanah itu merupakan pahlawan yang sangat besar bagi kehidupan manusia di muka bumi. Maka dari itu tanah harus diberi penghargaan yang layak dan besar.

“Ritual sedekah bumi inilah yang menurut mereka sebagai salah satu simbol paling dominan bagi para petani untuk menunjukkan rasa cinta kasih sayang dan sebagai penghargaan manusia atas karunia Allah yaitu bumi yang telah memberi kehidupan bagi manusia,” paparnya.***

Editor: Andra Adyatama

Tags

Terkini

Terpopuler