Publik Bikin Petisi untuk Selamatkan PBNU dari Jeratan Oligarki Batubara

- 10 Juni 2024, 07:00 WIB
Publik Bikin Petisi untuk Selamatkan PBNU dari Jeratan Oligarki Batubara
Publik Bikin Petisi untuk Selamatkan PBNU dari Jeratan Oligarki Batubara /Pikiran Rakyat/Portal Majalengka/

PORTAL MAJALENGKA - Pada 5 Juni lalu, bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, petisi untuk KH Yahya Cholil Staquf, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) diluncurkan.

Penggagas petisi yang bertajuk, ‘Ketua PBNU: Kelola Energi Terbarukan Bukan Tambang Batubara’, Firdaus Cahyadi menyebut, Petisi untuk Ketua PBNU itu dapat dilihat di link https://www.change.org/p/ketua-pbnu-kelola-energi-terbarukan-bukan-tambang-batu-bara.

Hingga 9 Juni 2024 jam 09.53 WIB, sudah ada 245 penandatangan petisi tersebut. “InsyaAllah, penandatangan petisi akan terus meningkat. Ketua PBNU harus lebih mendengarkan suara publik ini, daripada bisikan para oligarki Batubara,” ujarnya.

Baca Juga: Lawan Filipina, Ini Peluang Timnas Indonesia Lolos Fase Ketiga Piala Dunia 2024 Zona Asia

Lebih jauh, Firdaus Cahyadi, mengungkapkan bahwa tawaran pemerintah untuk mengelola tambang adalah bentuk dari jebakan kaum oligarki batubara di sekitar pemerintah.

“Para oligarki batubara menyadari bahwa narasi nasionalisme sempit tidak laku lagi untuk melindungi keserakahan mereka dalam mengeksploitasi sumber daya alam. Kaum oligarki Batubara ingin menggunakan narasi agama untuk melawan gerakan lingkungan hidup,” ujar Firdaus Cahyadi, yang juga aktivis Perubahan Iklim di 350.org Indonesia itu. 

Saat ini, lanjutnya, lembaga-lembaga pendanaan mulai enggan mendanai tambang Batubara karena merusak alam dan menyebabkan krisis iklim.

Baca Juga: Hasil Survei SMRC, Antara Ridwan Kamil dengan Dedi Mulyadi Siapa Lebih Favorit di Mata Pilihan Warga Jabar

“Jika PBNU menerima jebakan pemerintah untuk mengelola tambang batubara, maka yang rugi bukan hanya PBNU, umat Islam saja, tapi publik, baik yang ada di Indonesia maupun di tempat lain, karena batu bara adalah penyebab krisis iklim secara global,” jelasnya.

Halaman:

Editor: Andra Adyatama


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah