Asian Development Bank: Flip the Switch! Wujudkan Transisi Energi yang Adil Segera!

- 8 Juni 2024, 07:36 WIB
Ilustrasi greenflation, climateflation, dan fossilflation, dampak transisi energi baru.
Ilustrasi greenflation, climateflation, dan fossilflation, dampak transisi energi baru. /Pexels/Kervin Edward Lara/

 

PORTAL MAJALENGKA - Aktivis lingkungan yang terdiri dari 350.org, Climate Rangers Jakarta, Enter Nusantara, Fossil Free UKI, dan XR mengadakan aksi damai di Kedutaan Besar Jepang dan kantor Asia Development Bank (ADB) untuk mendesak ADB mengakselerasi transisi energi yang berkeadilan.

Aksi ini bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup serta acara Asia Clean Energy Forum (ACEF) meminta ADB untuk memastikan investasi yang transparan dan adil, memperbanyak hibah daripada hutang pada pembiayaan transisi energi, menolak solusi energi yang berbahaya, dan memprioritaskan konsultasi masyarakat.

Di Indonesia, ADB memimpin skema Just Energy Transition Partnership (JETP) dalam mobilisasi pendanaan dan bantuan teknis.

Baca Juga: Pilihan Objek Wisata Cirebon Menarik dan Bernilai Sejarah, Cocok Dikunjungi saat Liburan

“Dari total $20 miliar, hanya 1.47% yang merupakan dana hibah, tentu ini tidak menunjukkan keseriusan dalam membantu transisi energi negara berkembang. Jangan sampai ini malah menjadi jebakan hutang,” jelas Ginanjar Ariyasuta, dari Koordinator Mobilisasi 350.org Indonesia.

Lebih lanjut dia juga menyoroti rencana pensiun PLTU yang pendanaannya akan bersumber dari ADB.

“Pensiun dini PLTU di Indonesia dalam skema ETM maupun JETP harus dilaksanakan berdasarkan prinsip pencemar membayar. ADB misalnya selama ini mereka mendapatkan keuntungan dari bisnis energi fossil, ini saatnya mereka membersihkan polusi dari keuntungan yang yang mereka dapat dengan menggelontorkan hibahnya untuk membiayai pensiun dini PLTU,” tegasnya.

Baca Juga: Klinik MBKM Mandiri Jadi Solusi Atasi “Demam” MBKM

Koalisi juga menyoroti ADB yang sering gagal memberikan solusi yang nyata. Kebijakan ADB yang masih memasukkan proyek-proyek energi berbahaya seperti gas alam, sampah, panas bumi, atau nuklir dalam portofolio investasinya menjadi kontradiktif dengan komitmen global untuk mengurangi emisi karbon.

Halaman:

Editor: Andra Adyatama


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah